TIMES BAJAWA, JAKARTA – Ada sinyal, bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengurungkan niatnya dari opsi menyerang Iran karena ia mendapat kabar bahwa pembunuhan terhadap pengunjukrasa telah berhenti.
Dilansir Al Jazeera yang mengutip Wall Sreet Journal, sinyal digital itu diperoleh dari pernyataan Donald Trump yang menyatakan bahwa pembunuhan terhadap para pengunjukrasa di Iran telah berhenti.
Media itu juga menjelaskan bahwa sejumlah anggota senior tim Presiden Trump, termasuk Wapres JD Vance dan Menlu Marco Rubio , menyampaikan berbagai pilihan yang tidak melibatkan penggunaan kekuatan militer tetapi lebih condong ke serangan siber, sanksi, atau mendukung pesan anti-rezim secara daring.
Rabu kemarin Trump mengatakan kepada wartawan, bahwa Iran telah berhenti membunuh para pengunjukrasa anti-pemerintah dan tidak akan mengeksekusi mereka yang dituduh mencoba menggulingkan pemerintah.
Pernyataan Presiden Trump itu disampaikan beberapa jam setelah militer AS mengumumkan telah mengevakuasi sejumlah personel dari pangkalan militer AS di wilayah tersebut sebagai tindakan pencegahan karena meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Padahal sebelumnya, pada hari Selasa, Trump mengatakan kepada warga Iran yang memprotes pemerintah mereka bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan" dan mendesak warga Amerika Serikat di Iran untuk segera meninggalkan negara itu.
Selain itu, Trump pada hari itu juga menyatakan menolak kemungkinan negosiasi dengan Iran untuk dengan mengatakan dalam sebuah unggahan di platform Truth Social: "Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan brutal terhadap para demonstran berhenti".
Tetapi kini Trump mengesampingkan skenario menggunakan opsi militer terhadap rezim Iran dengan mengatakan: "Kami akan memantau situasi dan melihat bagaimana perkembangannya, tetapi kami menerima pernyataan yang sangat baik dari orang-orang yang mengetahui apa yang sedang terjadi."
Dalam beberapa hari terakhir, Donald Trump getol mengancam akan melakukan serangan militer terhadap target di Iran setelah ribuan pengunjukrasa tewas dan yang lainnya yang telah ditangkap mungkin akan dieksekusi.
Iran Siap Membalas
Sementara itu, kepala Korps Garda Revolusi Islam mengatakan Iran siap merespons, membalas "dengan tegas" kepada musuh-musuhnya, menuduh Amerika Setikat dan Israel berada di balik unjukrasa tersebut.
Iran juga sempat menutup wilayah udaranya pada hari Rabu (14/1/2026) sore kemarin untuk sebagian besar penerbangan seiring meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Menurut FlightRadar24, Peringatan Notice to Air Missions (NOTAM) telah dikeluarkan Iran setelah pukul 5 sore ET kemarin dengan melarang semua penerbangan kecuali penerbangan internasional ke dan dari Iran dengan izin. Peringatan itu berlaku selama lebih dari dua jam.
Penutupan sementara itu terjadi setelah Presiden Trump memberi sinyal bahwa ia puas rezim Iran tidak mengeksekusi para demonstran anti-pemerintah dan mengisyaratkan bahwa tindakan militer AS terhadap Iran tidak akan segera terjadi.
Menurut situs pelacakan penerbangan, hanya lima pesawat yang terlihat di atas wilayah udara Iran pada saat NOTAM dikeluarkan.
"Pasukan keamanan Iran telah menewaskan sedikitnya 3.428 pengunjukrasa dalam penindakan terhadap demonstrasi," kata LSM Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia pada hari Rabu, dan menambahkan bahwa lebih dari 10.000 orang juga telah ditangkap.
IHR mengatakan lonjakan jumlah korban yang terverifikasi disebabkan oleh informasi baru yang diterima dari dalam kementerian kesehatan dan pendidikan Iran, dengan setidaknya 3.379 pembunuhan terjadi selama puncak gerakan protes dari tanggal 8-12 Januari.
"Menyusul pembunuhan massal para demonstran di jalanan dalam beberapa hari terakhir, lembaga peradilan Republik Islam mengancam para demonstran dengan eksekusi besar-besaran," kata direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam, dalam sebuah pernyataan.
"Masyarakat internasional harus menanggapi ancaman ini dengan sangat serius, karena para pejabat Republik Islam melakukan kejahatan serupa pada tahun 1980-an untuk mempertahankan kekuasaan," imbuhnya.
Komentar-komentar tersebut muncul setelah kepala badan peradilan Iran memberi sinyal pada hari Rabu bahwa akan ada persidangan cepat dan eksekusi terhadap tersangka yang ditahan dalam protes tersebut, meskipun ada peringatan berulang kali dari Presiden Donald Trump bahwa AS mungkin akan mengambil tindakan militer jika demonstran terbunuh. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Ada Sinyal Amerika Serikat Urungkan Niat Menyerang Iran
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Ronny Wicaksono |